Laman

Kamis, 30 Juni 2011

Wanita dan Pria

Berapa banyak sih diantara kita yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah dengan alasan cinta? Berapa banyak yang memintanya untuk alasan cinta? Berapa banyak juga yang memberikannya untuk cinta? ngaku aja deh! hehe.

Buat mereka yang meminta seks dengan alasan cinta, lebih baik jujur saja pada diri sendiri kalau sebetulnya itu semua bukanlah cinta tetapi nafsu!! bohong saja kalau tidak mau mengaku juga!! nenek nenek gondrong juga tahu kok!! mana ada orang cinta minta sesuatu yang begitu suci dan berharganya? justru seharusnya merasa bersalah bila sampai tidak bisa menunggu sebelum waktunya. Lah, yang puas itu siapa kalau sampai berhasil mendapatkannya? yang meminta, kan? egois banget nggak sih? sementara cinta itu untuk diberikan bukan untuk diterima!! kepuasan yang diterima dari permintaan itu namanya buah dari nafsu!! jujur saja!!?

Bagi mereka yang memberi keperawanan dan kesucian dengan alasan cinta, ini juga bisa karena cinta / karena dua duanya, cinta dan nafsu. Ketulusan di dalam memberi itu semua sebagai sebuah pertanda bahwa seluruh yang ada dan dimiliki diberikan kepada sang kekasih merupakan cinta. Namun, di dalam proses memberikan semuanya itu, harus dilihat terlebih dahulu. Jika awalnya dari ciuman bibir yang kemudian menjadi sangat menggelora sehingga timbul keinginan untuk melakukan yang lebih lagi, yah, itu sih, nafsu juga. habis ciuman, berpelukan, dan diraba gitu, lho! bohong deh kalau bukan nafsu!!

Bagaimana menggambarkan cinta yang sesungguhnya? cinta yang sesungguhnya akan mengarahkan perasaan untuk mendorong inspirasi, pemikiran, jiwa, dan arah serta tujuan hidup ke sesuatu yang sifatnya spiritual. Apresiasi terhadap cinta itu sendiri justru membuahkan keindahan dan menghasilkan apa yang disebut sebagai kesucian.
Cinta itu juga sifatnya abadi kok!! tidak bisa hilang begitu saja. dilupakan sih bisa bisa saja, tapi akan selalu ada di dalam hati kita.

Pengenalan EQ tinggi

Ciri-ciri anak yang mempunyai EQ tinggi
1. Responsibility: Mempunyai rasa tanggung jawab
2. Self Motivation: Mampu menggali motivasi untuk maju
3. Self Regulation: Mampu mengontrol keseimbangan diri (emosi)
4. People Skill: Kemampuan bekerjasama dengan orang lain

Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Cara sederhana dalam mengajarkan kecerdasan emosi adalah dengan menunjukkan berbagai gambar, atau mengomentari situasi baik di majalah, TV, maupun media lainnya. Misalnya ketika melihat TV di mana ada tokoh yang sedang sedih karena dinakali oleh tokoh lainnya (hal ini sering muncul di film kartun), maka kita berkomentar "Aduh, kasihan sekali si x, pasti dia sangat sedih karena tindakan nakal temannya itu". Hal yang sama dapat dilakukan pula saat membaca dongeng.

Orang tua perlu berkali-kali menyebutkan situasi emosi para tokoh dalam cerita tersebut. Selain memperkenalkan berbagai jenis emosi, pada saat yang sama anak juga belajar hal-hal yang menyebabkan munculnya emosi tersebut, misalnya perasaan sedih salah satu tokoh cerita karena ditipu atau dihina tokoh yang lain. Orang tua juga dapat pula memberikan penilaian moril atas situasi tersebut, misalnya menghina adalah suatu perbuatan buruk dan jahat, sehingga anak menjadi tahu nilai moril dari suatu perilaku. Dalam hal ini secara langsung kita juga telah mengembangkan kecerdasan spiritual anak (kecerdasan dalam mengenali dan mengelola nilai-nilai).

Apabila anak sedari dini usia telah sering dilatih untuk peka dalam mengenali emosi, maka semakin dewasa akan semakin mudah mengenali emosi, dan akhirnya dapat menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada.